Archive for June, 2007

Temukanlah Pahlawanmu

Wednesday, June 6th, 2007

Kita semua perlu mimpi yang besar dalam hidup ini. Suatu karya yang ingin kita wariskan. Bukan agar kita jadi terkenal dan kaya (toh kita akan segera mati dan dilupakan orang, yang kenal kita pun akan segera mati juga), namun agar dalam hidup yang singkat ini mampu menjadi bermanfaat bagi orang lain.

“Kalau cita-cita kita jelas, maka kita akan mudah menemukan pahlawan kita, ‘hero’ kita…,

Hero. Setiap orang memerlukan pahlawan dalam hidupnya. Setiap orang juga bebas memilih pahlawannya. Pahlawan tersebut adalah model ideal seseorang untuk menjadi seperti apa dirinya nanti. Ada yang mengidolakan artis, ustadz, pengusaha, ilmuwan, maupun tetangganya, orang tuanya, gurunya, bahkan tokoh fiksi. Kita berusaha melihat diri kita ada dalam diri pahlawan tersebut, dan sebaliknya sang pahlawan tersebut ada dalam diri kita. Ada yang hero-nya sudah mati, ada yang masih hidup. Ada yang hero nya bertahan lama, ada yang cuma sekejap (seringkali untuk hero yang masih hidup, ada sisi-sisi negatif yang bisa menyebabkan kekecewaan pemujanya, sedangkan untuk hero yang sudah meninggal, kita lebih toleran terhadap sisi-sisi negatif itu). Ada hero yang nyata, ada yang fiksi (saya sendiri pernah mengidolakan Spiderman dan Batman, sedangkan anak sekarang mengidolakan Harry Potter).

Apa yang kita lihat dalam diri hero tersebut? Diri kita sendiri yang kita mimpikan. Dan hero kita itu adalah model pembelajaran bagaimana kita bisa mencapai cita-cita yang kita idamkan itu. Kalau kita punya mimpi menjadi pengusaha real estate yang sukses, mungkin akan kita temukan hero itu (sebagian) ada pada Donald Trump. Kalau kita ini ingin menjadi penemu, maka hero kita mungkin adalah Thomas Alva Edison. Kalau ingin jadi artis terkenal, mungkin heronya -untuk anak remaja sekarang- adalah Peter Pan dan Samsons. Kalau kita ingin buka restoran, hero kita adalah Ray Kroc pendiri Mc Donalds atau Kolonel Sanders pendiri KFC.

Kalau kita tahu apa cita-cita besar kita dalam hidup ini, maka kita akan mudah menemukan hero kita. Sebaliknya, andai kita masih ragu dengan apa cita-cita kita, maka kita bisa lacak cita-cita itu dari hero-hero yang kini kita idolakan. Cita-cita dapat menciptakan hero-hero, sedangkan hero-hero dapat menumbuhkan cita-cita.

Dan masih banyak hero yang lain, KH Ahmad Dahlan yang kabarnya pernah menjual piring hanya untuk membiayai pengajian (dan pengajian itu kemudian menjelma menjadi organisasi Muhammadiyah yang kegiatan amalnya luar biasa). Matsushita yang mendirikan Matsushita Electric (dan kini memiliki pegawai ratusan ribu orang), Edison (yang membuat dunia terang benderang), Gandhi (yang membuktikan dahsyatnya kekuatan keyakinan), Rasulullah Muhammad saw (hero paling utama bagi muslim), Mother Theresa (karena keberanian beliau mengambil penderita TBC dari jalanan Calcutta, di saat orang lain menyingkir jijik), Romo Mangun (yang menggagas sekolah gratis Mangunan, dan membuat jaringan pipa air di daerah kering Gunung Kidul. Sebelumnya saya pernah ‘sangat-sangat’ membenci beliau karena sentimen agama, sampai akhirnya sadar, saya juga harus punya karya sebaik beliau), Hamka (buku sederhana beliau berjudul ‘Tasawuf Modern’, membuka cara pandang saya tentang siapa itu sufi, selain itu betapa beliau saat dihukum penjara justru bisa menghasilkan tafsir Al Azhar yang bagus sekali), dan juga guru-guru saya seperti misalnya almarhum Pak Mudji Rahardjo (yang mengajar kimia dengan cara humoris dan inspiratif). (Oke, Anda bertanya kok nggak ada yang artis? Dengan bangga kami masukkan Vivaldi (yang membina musik anak para pelacur), Iwan Fals (yang berani mengkritik keras lewat lagu), juga Haddad Alwi (yang mempopulerkan kembali shalawat). Akhir-akhir ini tampaknya Dik Doank (dengan sekolah sepakbola gratis Jurank Doank-nya) layak masuk daftar. Masih banyak yang lain kok, nanti daftarnya terlalu panjang.)

Mereka dari latar belakang yang bermacam-macam. Apa sih kesamaan mereka?

Inspiratif! Ya, seseorang (atau sesuatu) menjadi hero kita karena menyulut api inspirasi dalam diri kita. Mereka itu inspiratif. Mereka semua itu diam-diam berkontribusi membentuk diri generasi berikutnya untuk melanjutkan karya bagi umat manusia sepanjang zaman.

Jangan pernah takut bermimpi

Wednesday, June 6th, 2007

“Kalau cita-citanya terlalu tinggi, kemudian tidak tercapai, kan jadi frustasi dong….”

Bercita-cita memang menyimpan dilema. Kalau cita-citanya rendah, biasanya pencapaian juga rendah. Kalau cita-cita tinggi, paling tidak hasilnya di tengah-tengah. Kalau cita-cita rendah, lalu hasilnya tinggi, itu namanya beruntung. Sayangnya, kebanyakan diri kita bukanlah orang yang sering beruntung seperti Si Untung, temannya Donald bebek. Kita mungkin lebih mirip si Donald.

Memang citra-cita yang tinggi beresiko mengalami frustasi. Manusia menjadi kecewa bila antara harapan dengan kenyataan ternyata tidak sesuai. Bahkan andaipun kenyataan itu bernilai lebih tinggi dari harapan, tetap bisa mengalami kekecewaan. Ibarat kita di tengah padang pasir yang terik, kemudian kita kehabisan bekal minum, tentulah saat itu sangat mengharapkan untuk mendapatkan air. Jika saat itu pula kita mendapatkan sebuah batu permata yang bernilai sangat tinggi, tentulah kita tetap akan kecewa karena temuan itu tidak sesuai dengan harapan saat itu. Batu permata itu tak berguna juga akhirnya andai kita mati kehausan. Jadi setiap harapan, cita-cita, menyimpan potensi kekecewaan. Kalau begitu, apakah sebaiknya kita mengurangi cita-cita kita agar tak jadi kecewa?

Tentu saja jawabnya adalah sebuah ‘jalan tengah’. Kita wajib bercita-cita setinggi langit (hei, siapa tahu cita-cita tersebut tercapai, seperti yang dialami John Goddard yang meraih 109 dari banyak cita-citanya), dan di sisi lain kita juga mengembangkan kiat bersiap menghadapi kemungkinan kegagalan meraih cita-cita itu.

Beginilah kiatnya : jadikan sebuah cita-cita mempunyai multi tujuan.

Maksudnya adalah, setiap kali kita mempunyai cita-cita, maka kita menempelkan terhadapnya beberapa alasan sekaligus kenapa kita menginginkannya. Misalnya, seorang anak SMA yang ingin ikut ujian masuk perguruan tinggi untuk masuk jurusan Teknik Elektro ITB misalnya, tentu akan menjadi kecewa bila ternyata dia gagal meraihnya. Sering terjadi karena gagal seleksi masuk tersebut, seorang anak SMA menjadi sedih luar biasa, bahkan menjadi frustasi dengan hidupnya. Kiat yang harus dilakukan oleh anak tersebut (termasuk oleh orang tua dan gurunya) adalah memberikan alasan yang lebih banyak kenapa anak tersebut ikut ujian seleksi masuk perguruan tinggi.

Misalnya, tujuan ikut ujian seleksi masuk adalah :
Ingin kuliah di Teknik Elektro ITB, agar masa depan menjadi cerah.

Kenyataan : gagal! Maka ia gagal 100%.

Lalu kita ubah dengan kiat multi tujuan, sehingga ikut seleksi masuk memiliki tujuan sebagai berikut :
Ingin kuliah di Teknik Elektro ITB, agar masa depan menjadi cerah.
Berusaha untuk mengusahakan masa depan yang lebih baik adalah ibadah.
Belajar keras juga akan menyenangkan hati orang tua, karena menunjukkan sikap bersungguh-sungguh dan menghargai dorongan orang tua selama ini. Ini juga ibadah.
Ingin tahu sejauh mana kemampuan diri, dengan menguji diri melalui seleksi masuk perguruan tinggi.
Menikmati permainan, tampaknya ujian ini seperti permainan dimana selain kemampuan juga dituntut strategi. Ini sangat menantang dan mengasyikkan.
Bisa belajar bareng teman-teman, dan terutama menjadi lebih dekat dengan ‘si doi’, teman yang selam ini ditaksir diam-diam.

Misalnya seperti itu, jadi daripada hanya 1 alasan kini menjadi 6 alasan. Nah, bila alasan pertama yaitu masuk Teknik Elektro ternyata gagal, maka masih banyak yang bisa dicapai, yaitu pahala ibadah, restu orang tua, tahu posisi kemampuan diri, sudah ikut menikmati permainan, juga jadi punya pacar (karena ternyata ‘si doi’ gagal juga, senasib!). Nah, artinya hanya gagal 1 dari 6 tujuan, alias hanya gagal 17%.

Nah, itu baru namanya cerdas!

Jadi kalau Anda punya cita-cita yang tinggi (rumah yang bagus, karir yang oke, naik haji, dsb) ingat-ingatlah untuk menambahkan sebanyak mungkin alasan kenapa kita ingin mencapainya. Sehingga walau cita-citanya tinggi namun anti kena depresi, jadi kita selalu bisa gembira!

“….. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS: 2 - Al Baqarah : 216)