Jangan pernah takut bermimpi
“Kalau cita-citanya terlalu tinggi, kemudian tidak tercapai, kan jadi frustasi dong….”
Bercita-cita memang menyimpan dilema. Kalau cita-citanya rendah, biasanya pencapaian juga rendah. Kalau cita-cita tinggi, paling tidak hasilnya di tengah-tengah. Kalau cita-cita rendah, lalu hasilnya tinggi, itu namanya beruntung. Sayangnya, kebanyakan diri kita bukanlah orang yang sering beruntung seperti Si Untung, temannya Donald bebek. Kita mungkin lebih mirip si Donald.
Memang citra-cita yang tinggi beresiko mengalami frustasi. Manusia menjadi kecewa bila antara harapan dengan kenyataan ternyata tidak sesuai. Bahkan andaipun kenyataan itu bernilai lebih tinggi dari harapan, tetap bisa mengalami kekecewaan. Ibarat kita di tengah padang pasir yang terik, kemudian kita kehabisan bekal minum, tentulah saat itu sangat mengharapkan untuk mendapatkan air. Jika saat itu pula kita mendapatkan sebuah batu permata yang bernilai sangat tinggi, tentulah kita tetap akan kecewa karena temuan itu tidak sesuai dengan harapan saat itu. Batu permata itu tak berguna juga akhirnya andai kita mati kehausan. Jadi setiap harapan, cita-cita, menyimpan potensi kekecewaan. Kalau begitu, apakah sebaiknya kita mengurangi cita-cita kita agar tak jadi kecewa?
Tentu saja jawabnya adalah sebuah ‘jalan tengah’. Kita wajib bercita-cita setinggi langit (hei, siapa tahu cita-cita tersebut tercapai, seperti yang dialami John Goddard yang meraih 109 dari banyak cita-citanya), dan di sisi lain kita juga mengembangkan kiat bersiap menghadapi kemungkinan kegagalan meraih cita-cita itu.
Beginilah kiatnya : jadikan sebuah cita-cita mempunyai multi tujuan.
Maksudnya adalah, setiap kali kita mempunyai cita-cita, maka kita menempelkan terhadapnya beberapa alasan sekaligus kenapa kita menginginkannya. Misalnya, seorang anak SMA yang ingin ikut ujian masuk perguruan tinggi untuk masuk jurusan Teknik Elektro ITB misalnya, tentu akan menjadi kecewa bila ternyata dia gagal meraihnya. Sering terjadi karena gagal seleksi masuk tersebut, seorang anak SMA menjadi sedih luar biasa, bahkan menjadi frustasi dengan hidupnya. Kiat yang harus dilakukan oleh anak tersebut (termasuk oleh orang tua dan gurunya) adalah memberikan alasan yang lebih banyak kenapa anak tersebut ikut ujian seleksi masuk perguruan tinggi.
Misalnya, tujuan ikut ujian seleksi masuk adalah :
Ingin kuliah di Teknik Elektro ITB, agar masa depan menjadi cerah.
Kenyataan : gagal! Maka ia gagal 100%.
Lalu kita ubah dengan kiat multi tujuan, sehingga ikut seleksi masuk memiliki tujuan sebagai berikut :
Ingin kuliah di Teknik Elektro ITB, agar masa depan menjadi cerah.
Berusaha untuk mengusahakan masa depan yang lebih baik adalah ibadah.
Belajar keras juga akan menyenangkan hati orang tua, karena menunjukkan sikap bersungguh-sungguh dan menghargai dorongan orang tua selama ini. Ini juga ibadah.
Ingin tahu sejauh mana kemampuan diri, dengan menguji diri melalui seleksi masuk perguruan tinggi.
Menikmati permainan, tampaknya ujian ini seperti permainan dimana selain kemampuan juga dituntut strategi. Ini sangat menantang dan mengasyikkan.
Bisa belajar bareng teman-teman, dan terutama menjadi lebih dekat dengan ‘si doi’, teman yang selam ini ditaksir diam-diam.
Misalnya seperti itu, jadi daripada hanya 1 alasan kini menjadi 6 alasan. Nah, bila alasan pertama yaitu masuk Teknik Elektro ternyata gagal, maka masih banyak yang bisa dicapai, yaitu pahala ibadah, restu orang tua, tahu posisi kemampuan diri, sudah ikut menikmati permainan, juga jadi punya pacar (karena ternyata ‘si doi’ gagal juga, senasib!). Nah, artinya hanya gagal 1 dari 6 tujuan, alias hanya gagal 17%.
Nah, itu baru namanya cerdas!
Jadi kalau Anda punya cita-cita yang tinggi (rumah yang bagus, karir yang oke, naik haji, dsb) ingat-ingatlah untuk menambahkan sebanyak mungkin alasan kenapa kita ingin mencapainya. Sehingga walau cita-citanya tinggi namun anti kena depresi, jadi kita selalu bisa gembira!
“….. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS: 2 - Al Baqarah : 216)
December 5th, 2007 at 2:37 pm
bguuuuuuuuuuuuuuus pool tpi impianQ ga stinggi tu aq bsa nyenengin my mom adek2q tu ckup wlo aq brkorban tuk driQ…..